TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Keluarga besar Syahrir Rudding di Desa Majannang, Parigi, Gowa, Sabtu (20/1/2018) pagi, kedatangan tamu pesta yang tidak lazim.
Saat tetamu satu per satu ke pelamiman memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai yang baru saja melangsungkan akad nikah, dua orang bertopi hitam menyeruak di sela undangan.
Syahrir menyambut dua orang itu sambil berdiri. Arifuddin, yang baru saja mengucap ijak kabul berdiri di samping kekasihnya, Ati Sarmiati, sambil memegang gagang keris.
Mengenakan sarung dan jas plus songkok hitam, Syahrir menjawab pertanyaan dua orang bertopi hitam itu. Setelah mencocokkan data, kedua orang itu, pria dan wanita, beralih ke Ati dan Arifuddin.
Dalam balutan busana pengantin Bugis-Makassar, Ati berusaha menjawab pertanyaan dua petugas itu di samping suami.
Pas! Keterangan pengantin itu baru sesuai data yang disodorkan.
Ati lalu diberi kartu khusus. Kemudian, pengantin baru memamerkan kertas tanda bukti telah tercoklit seperti kebanyakan pengantin baru memperlihatkan buku nikah di hadapan kamera.
"Saya Sudah dicoklit. Kita, Iya???”, itu kalimat yang tertulis dalam kertas yang dipamerkan bersama Ati.
Itulah salah satu proses coklit yang dilakukan KPU Gowa dan jajarannya, kemarin. “Sikap keluarga Pak Syahrir patut dicontoh. Kami berharap, warga yang melakukan pesta melakukan hal serupa,” ujar anggota KPU Gowa, Muchtar Muis, tadi malam.
Coklit serentak, kemarin, dilakukan di 1,93 juta rumah di 171 daerah yang menggelar Pilkada Serentak 2018.
Hingga 18 Februari 2018, petugas panitia pemutakhiran data pemilih (PPDP) ditugaskan berkunjung ke rumah warga secara door to door untuk melakukan coklit data pemilih tetap (DPT) terakhir hasil sinkronisasi dengan daftar penduduk pemilih potensial pemilu (DP4).(*)
sumber : www.tribun-timur.com
Selengkapnya